Mengenal 5 Jenis Kondisi Hipoksia Berdasarkan Penyebabnya

  • Whatsapp

 

Kondisi ketika tubuh tidak bisa berfungsi normal akibat kekurangan pasokan oksigen di sel dan jaringan tubuh disebut hipoksia. Kondisi ini bisa terjadi pada pasien dengan penyakit paru-paru, asma, dan lainnya. Kondisi ini juga seringkali menjadi penyebab kematian pada pasien Covid-19. Oleh sebab itu, WHO menyarankan agar pasien Covid-19 memiliki pulse oximeter, terutama mereka yang melakukan isolasi mandiri.

Read More

Menurunnya kadar oksigen dalam darah tidak bisa dianggap remeh, karena akan menyebabkan efek negatif bagi tubuh. Mula-mula jaringan dan otak tidak bisa berfungsi dengan baik, kemudian mengganggu kinerja organ dalam, akhirnya bisa menyebabkan kematian.

Hipoksia dapat menyerang dengan gejala atau tanpa gejala. Gejala yang sering muncul adalah napas pendek dan cepat, detak jantung cepat, wajah dan kulit membiru, linglung, bingung, dan lemas. Hipoksia bukan hanya satu macam, tapi memiliki beberapa jenis berdasarkan penyebabnya.

Jenis Hipoksia Berdasarkan Penyebabnya

Hipoksia tidak langsung menyerang dengan gejala sesak napas, terkadang pasien yang mengalaminya tidak menunjukkan gejala signifikan. Kondisi tanpa gejala signifikan inilah yang sering terlewatkan dan berefek sangat buruk. Berikut ada beberapa jenis hipoksia berdasarkan penyebab dan kondisi pasien:

1. Hipoksia Hipoksik

Kondisi ini terjadi ketika pembuluh arteri mengalami penurunan kadar oksigen. Penyebab terjadinya tidak selalu karena pasien mengidap hipoksia, tapi karena ada situasi tertentu. Misalnya, berada di ruangan dengan oksigen rendah, adanya riwayat penyakit paru, konsumsi obat-obat tertentu, atau kondisi yang menyebabkan henti napas.

2. Hipoksia Anemik

Bagi penderita anemia, sangat rentan terkena hipoksia anemik. Oleh sebab itu, disarankan agar selalu menyediakan dan membawa pulse oximeter ke mana pun pergi untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Kondisi ini ditandai dengan penurunan kinerja darah dalam menyalurkan oksigen ke seluruh tubuh. Hal ini menyebabkan darah tidak lagi kaya akan oksigen sehingga mempengaruhi kinerja jaringan dan organ dalam tubuh. Penderita asma atau pasien dengan kasus keracunan karbon monoksida sering mengalami kondisi ini.

3. Hipoksia Stagnan

Berbeda dengan dua kondisi hipoksia sebelumnya, hipoksia stagnan merupakan kondisi penurunan kadar oksigen dalam darah karena adanya gangguan aliran darah. Kondisi ini biasanya terjadi karena terhentinya aliran darah arteri ke organ atau terjadinya gangguan aliran darah. Pasien dengan keluhan trombosis arteri berpotensi mengalami hipoksia stagnan.

4. Cytopathic Hypoxia

Peradangan atau sepsis juga bisa menjadi penyebab seseorang mengalami hipoksia. Kondisi ini memang tidak sering terjadi, tapi kemungkinan selalu ada. Kondisi cytopathic hypoxia ini bisa menyerang siapa saja dan membuat pasien mengalami gagal napas.

5. Hipoksia Histotoksik

Kondisi ini bisa dikatakan langka terjadi, karena gejalanya berkaitan dengan kemampuan sel dalam tubuh dalam menggunakan oksigen. Kemampuan sel pada kasus hipoksia histotoksik terganggu karena alasan khusus, yaitu keracunan zat berbahaya, seperti sianida.

Mengenal lebih banyak mengenai jenis hipoksia dapat membantu Anda mengenali gejala yang muncul. Hipoksia tidak selalu terjadi karena adanya penyakit bawaan, tapi bisa juga disebabkan oleh kondisi khusus.

Pada pasien Covid-19, hipoksia sangat rentan terjadi. Apalagi jika pasien punya keluhan sakit jantung, paru-paru, asma, dan lainnya. Memiliki pulse oximeter merupakan salah satu cara agar bisa memantau kadar oksigen dalam darah. Alat ini bisa dibeli di toko alat kesehatan atau melalui media online. Harganya cukup terjangkau, mulai dari Rp150.000,- per unit dan cara penggunaannya pun sangat mudah.

 

Sumber:

1. https://www.halodoc.com/artikel/kekurangan-oksigen-ini-5-penyebab-hipoksia

2. https://www.halodoc.com/kesehatan/hipoksia

3. https://www.alodokter.com/hipoksia

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *